In — Langkah mengejutkan diambil Presiden Prabowo Subianto pada awal Juni 2026. Melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Selasa (2/6/2026), Istana mengumumkan pencopotan total jajaran elite Badan Gizi Nasional (BGN). Dadan Hindayana didepak dari kursi Kepala BGN, bersama dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Mayjen TNI (Purn.) Lodewyk Pusung.
Sebagai gantinya, Prabowo mengangkat Nanik Sudaryati Deyang (Nanik S. Deyang) mantan jurnalis senior asal Jawa Timur yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi menjadi Kepala BGN yang baru.
Perombakan radikal ini bukan tanpa sebab. Hanya berselang sehari setelah pencopotan, Rabu (3/6/2026), Kejaksaan Agung (Kejagung) langsung menggeledah kantor BGN terkait dugaan korupsi tata kelola program unggulan politik terbesar Prabowo: Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahkan, mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
Di tengah guncangan tersebut, penunjukan Nanik memicu diskusi liar di ruang publik. Apakah penempatan seorang mantan wartawan di puncak otoritas anggaran raksasa ini murni demi transparansi, atau justru langkah taktis Istana untuk membungkam kritik serta mengontrol arus informasi negatif terkait program MBG?
Rekam Jejak Nanik, dari Pena Kritis hingga Lingkar Intim Kekuasaan
Lahir di Madiun, Jawa Timur, 3 Januari 1968, Nanik S. Deyang bukanlah nama baru di dunia pers. Ia memulai karier sebagai wartawati di Tabloid Bangkit (Kompas Gramedia Group) dan sempat memimpin Kelompok Media Peluang (KMP). Pada masa aktifnya sebagai jurnalis, Nanik dikenal vokal dan kritis terhadap isu-isu sosial-ekonomi.
Namun, garis hidup membawanya masuk ke lingkaran inti Prabowo Subianto. Pada Pilpres 2019, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Loyalitasnya terbayar pasca-Pilpres 2024 dengan serangkaian jabatan. Pada Oktober 2024, ia diangkat sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Kemudian pada Juni 2025, ia menjabat Komisaris Independen PT Pertamina (Persero). Lalu pada September 2025, ia dipercaya sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, hingga akhirnya pada Juni 2026 naik menjadi Kepala Badan Gizi Nasional.
Melihat rekam jejak ini, posisi Nanik jelas telah bergeser dari “pengontrol kekuasaan” (pers) menjadi “bagian dari kekuasaan itu sendiri”.
Menepis Narasi Pembungkaman Kritik
Kekhawatiran publik bahwa penunjukan mantan jurnalis adalah cara rezim melakukan manajemen media untuk meredam kritik atas kegagalan atau korupsi MBG dinilai terlalu menyederhanakan masalah. Direktur Utama Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio (Hensat), menilai penunjukan Nanik lebih didasari faktor kebersihan rekam jejak di internal BGN, bukan taktik pembungkaman.
Nanik, yang masuk ke BGN belakangan pada akhir tahun lalu, dinilai tidak terlibat dalam pusaran rasuah yang menjerat Dadan Hindayana dan Sony Sonjaya. Saat menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Investigasi, Nanik justru dikenal ketat dalam menutup unit-unit dapur pelayanan gizi daerah yang tidak memenuhi standar kelayakan dan rawan kebocoran anggaran.
Dalam konferensi pers pertamanya pasca dilantik, Kamis (4/6/2026), Nanik langsung menunjukkan arah kebijakan barunya yang berfokus pada pengawasan ketat, didampingi dua wakil barunya.
Formasi Baru BGN, Benteng Pencegah Kebocoran
Untuk memulihkan kepercayaan publik yang runtuh akibat penggeledahan Kejagung, Prabowo tidak membiarkan Nanik berjalan sendiri. Istana menempatkan figur-figur dengan spesialisasi “pagar betis” anggaran di posisi Wakil Kepala BGN.
Wakil Kepala BGN I dijabat Agustina Arumsari, seorang perempuan yang telah berkarier selama 34 tahun di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan pernah menjabat sebagai Wakil Kepala BPKP. Ia dikenal sebagai ahli audit mutu dan keuangan negara. Sementara itu, posisi Wakil Kepala BGN II diisi oleh Mayjen TNI Trenggono, mantan Wakil Direktur Utama PT Agrinas yang memiliki keahlian mengelola logistik skala besar. Ia saat ini sedang dalam proses mundur dari militer aktif.
“Tugas dari Pak Presiden, beliau (Agustina Arumsari) akan mengawasi super ketat tata kelola dan keuangan negara di BGN,” tegas Nanik saat memperkenalkan timnya.
Akankah Kontrol terhadap MBG Menjadi Lebih Tertutup?
Alih-alih membungkam kritik media, tantangan terbesar Nanik justru membuktikan bahwa latar belakang jurnalisnya mampu membawa transparansi radikal ke dalam BGN. Komunikasi publik yang persuasif memang diperlukan untuk menjaga reputasi program MBG, tetapi publik saat ini menuntut akuntabilitas riil, bukan sekadar kosmetik humas.
Dengan anggaran fantastis, celah korupsi program makan gratis ini sangat lebar mulai dari pengadaan bahan baku, distribusi, hingga standardisasi dapur.
Langkah awal Nanik yang membuka peluang pemanfaatan kantin sekolah sebagai dapur pelayanan di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) menunjukkan pendekatan pragmatis. Namun, ujian sesungguhnya adalah apakah ia berani membuka data anggaran MBG kepada publik secara transparan, atau justru menggunakan kemampuan komunikasinya untuk memilah informasi mana yang boleh dan tidak boleh diketahui oleh mantan rekan-rekan seprofesinya di dunia pers.
Masyarakat kini menunggu, apakah mantan jurnalis Jatim ini akan menjadi pahlawan penyelamat gizi anak bangsa, atau sekadar perisai politik Istana di tengah badai korupsi?
