In — Di panggung birokrasi Sumenep, ada pertunjukan yang sayang untuk dilewatkan. Sekda Agus, sang “panglima anggaran,” tengah menorehkan prestasi yang sungguh membanggakan. Bayangkan, dari pagu belanja modal Rp142,66 miliar, hanya Rp54,64 miliar yang berhasil dieksekusi hingga Triwulan III. Sisanya, Rp88,02 miliar, memilih bersemedi dengan tenang di rekening kas daerah. Mungkin terlalu lelah untuk keluar dan bekerja.
Data Banggar DPRD Sumenep sudah berbicara, realisasi 38,30 persen. Angka yang, kalau ini adalah nilai ujian, sudah pasti masuk kategori “silakan remedial tahun depan.” Tapi tenang, ini bukan ujian.
Senior PMII Sumenep, Imam Syafi’ie, tampaknya kurang bisa menikmati humor birokrasi ini. Dengan nada yang sayangnya masih waras, ia menyebut kinerja Sekda sebagai “gagal total.” Ia bahkan mengusulkan agar sang Sekda mundur saja, alih-alih terus memamerkan angka di atas kertas APBD seolah itu karya seni.
“Rp88 miliar itu uang rakyat, bukan untuk dipamerkan di atas kertas APBD,” tegasnya, Minggu (11/10). Kalimat yang, kalau boleh jujur, terlalu masuk akal untuk ukuran pejabat yang sedang sibuk tidak bekerja.
Imam juga mendesak Bupati mengevaluasi total. Pasalnya, membiarkan anggaran mangkrak di tengah jalan rusak dan layanan publik yang minim disebutnya sebagai “bentuk pengkhianatan terhadap rakyat.” Istilah yang mungkin terdengar keras, tapi setidaknya lebih jujur daripada laporan realisasi 38,30 persen yang disajikan dengan wajah tanpa dosa.
Hingga berita ini diturunkan, Sekda Agus masih belum buka suara. Mungkin sedang sibuk mencari di mana Rp88 miliar itu bersembunyi. Atau mungkin sedang menyusun pidato tentang “optimalisasi penyerapan anggaran” untuk triwulan berikutnya. Semoga saja kali ini anggarannya benar-benar keluar dari ruang rapat.
