In – Kepolisian memasang garis polisi di lokasi sumur bor yang mengeluarkan air bercampur lumpur dan bau menyengat diduga gas di Desa Tamidung, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Rabu (17/9/2026). Pemasangan garis polisi dilakukan setelah tim gabungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengambil sampel air dari sumur tersebut pada 15 September 2026 untuk diteliti di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep.
Tim gabungan itu terdiri dari Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Pemkab Sumenep, Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida), pihak kecamatan, serta Kepolisian Sektor (Polsek) Batang-Batang.
Warga setempat, Nur Hayat, mengatakan polisi baru memasang garis polisi di sekitar lokasi sumur pada Rabu. Menurutnya, garis polisi dipasang mengelilingi area sumur bor dalam bentuk persegi empat dengan luas diperkirakan sekitar 20 meter.
“Memang, polisi baru memasang garis polisi hari ini,” kata Hayat.
Hayat menduga pemasangan garis polisi berkaitan dengan rencana penanganan lanjutan terhadap sumur yang sebelumnya dilaporkan mengeluarkan air bercampur lumpur dan berbau seperti gas. Ia menyebut Pemkab Sumenep sebelumnya berencana mengirim surat kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meminta pemeriksaan.
“Pemkab sebelumnya berencana bersurat ke ESDM Jawa Timur untuk mengecek temuan itu,” tambahnya.
Saat ini, sumur bor tersebut telah ditutup sementara dan bau menyengat di sekitar lokasi mulai berkurang. Meski demikian, Hayat berharap pemeriksaan tetap dilakukan untuk memastikan penyebab munculnya bau dan kondisi sumur.
“Sumur itu sudah ditutup sementara. Bau menyengat sudah mulai berkurang. Namun, kami tetap berharap ada pemeriksaan,” harap Hayat.
Pemilik sumur, Asdino, menceritakan proses pengeboran. Menurut dia, saat pengeboran mencapai kedalaman sekitar 20 meter, tukang bor sudah menemukan sumber air. Karena debitnya masih kecil, pengeboran kemudian dilanjutkan. Setelah mencapai kedalaman sekitar 40 meter, kondisi air di dalam sumur berubah.
“Pada kedalaman sekitar 40 meter, air terlihat seperti mendidih dan bergelembung,” jelas Asdino.
Ia juga menyebut ada suara atau kondisi seperti letupan dari dalam sumur.
“Di dalam sumur seperti ada letupan,” ujarnya.
Asdino mengaku sempat menutup lubang sumur menggunakan karung dan menahannya dengan batu untuk menghentikan semburan. Namun, upaya itu tidak bertahan lama.
“Sebenarnya saya tutup pakai karung dan diganjal batu. Sebelumnya hanya tahu, ternyata menyembur lagi,” kata dia.
Sampel air dari sumur tersebut masih diteliti di DLH Sumenep. Pemeriksaan lanjutan juga diharapkan dapat memastikan penyebab munculnya bau menyengat serta kondisi sumur bor di Desa Tamidung.
