Hardiknas: Saatnya Kembali ke Akar Karakter

fathorrosy
3 Min Read
Penulis

Oleh: Robith El Hasani*

In – Hari Pendidikan Nasional Seharusnya Tidak hanya Menjadi Ajeng Seremoni tahunan untuk merayakan kemajuan Infrastruktur di sekolah-sekolah. Dibalik gemerlap digitalisasi Pendidikan, kita tengah menghadapi tantangan besar yakni krisis moral Yang mengancam jati diri generasi muda.

Kemudahan akses informasi melalui gadget semakin mengkhawatirkan, Sebab seringkali tidak disertai dengan filter etika yang kuat, Sehingga nilai-nilai luhur kepribadian bangsa perlahan mulai terkikis oleh arus budaya instan dan konten yang jauh dari nilai-nilai moral. Krisis moral di era digital ini Tampak nyata dalam fenomena hilangnya tatakrama diruang Siber. Media sosial kini sering menjadi Panggung perundungan (cyber bullying), penyebaran berita bohong, hingga pudarnya rasa hormat Terhadap perbedaan pendapat.

Pendidikan yang hanya mengejar kecerdasan kognitif Tanpa menyentuh aspek Afektif Akan menghasikan individu yang pintar secara teknis, namun buta secara nurani. Saat ini, jarak bukan lagi penghalang untuk berkomunikasi, tapi justru ego yang membuat kita berjarak. Kita punya ribuan temab di media sosial, tapi merasa sendiri saat butuh telinga untuk mendengar.

Tantangan digital ini menuntut kita untuk menengok kembali “akar karakter” yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan proses memanusiakan manusia secara utuh. Di tengah derasnya algoritma yang sering kali lebih mengutamakan kepopuleran daripada kebenaran, sekolah dan rumah harus menjadi benteng utama untuk menanamkan kejujuran, tanggung jawab, dan keberadaban sebagai fondasi utama dalam berinteraksi di dunia maya maupun nyata.

Peran pendidik pun harus bertransformasi dari sekadar sumber informasi menjadi navigator moral. Guru tidak lagi berkompetisi dengan mesin pencari dalam menyediakan data, melainkan harus hadir sebagai teladan dalam bersikap. Tantangan digital ini mengharuskan adanya integrasi antara literasi digital dan literasi moral. Siswa perlu diajarkan bukan hanya cara menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga bagaimana menjaga integritas diri dan menghargai martabat orang lain saat berada di balik layar.

Selain sekolah, keluarga memegang peranan krusial sebagai tempat penyemaian karakter yang paling dasar, Orang tua tidak seharusnya lengah dengan membiarkan seluruh pembentukan akhlak anak hanya bergantung pada layar ponsel.

Pendampingan yang konsisten dan dialog terbuka mengenai nilai-nilai kehidupan menjadi kunci agar anak-anak tidak kehilangan pegangan di tengah arus informasi yang serba cepat. Tanpa akar karakter yang kuat dari rumah, anak-anak akan mudah terombang-ambing oleh tren digital yang belum tentu sesuai dengan norma masyarakat.

Sebagai penutup, peringatan Hardiknas tahun ini harus menjadi momentum untuk melakukan reorientasi pendidikan nasional. Kita harus berani menegaskan bahwa kemajuan teknologi hanyalah alat, sementara karakter adalah kemudinya. Dengan memperkuat akar karakter, kita tidak perlu takut menghadapi badai digital sedahsyat apa pun. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mahir menguasai teknologi masa depan, tetapi juga teguh memegang nilai-nilai kemanusiaan yang abadi.

*Komandan DKC CBP IPNU Pamekasan

Share This Article