Akhir 2026 Diwarnai Ancaman Cuaca Ekstrem, BMKG Minta Masyarakat Waspada

alibanunkalim
2 Min Read
Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

In — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia pada akhir September 2026.

Dalam prakiraan cuaca periode 25–28 September 2026, BMKG menyebut angin kencang berpotensi terjadi di Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga masih berpeluang terjadi secara lokal di sejumlah daerah.

BMKG menjelaskan, kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang masih dominan di Indonesia. Meskipun demikian, dinamika atmosfer tertentu tetap dapat memicu pertumbuhan awan hujan dan angin kencang secara lokal.

Selain potensi angin kencang, BMKG menyatakan fenomena El Niño saat ini berada pada kategori sangat kuat. Kondisi tersebut turut memengaruhi rendahnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) berpengaruh terhadap kondisi kekeringan di Indonesia.

“Kombinasi fenomena El Niño dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis. Kondisi tersebut dipengaruhi El Niño sangat kuat serta perkembangan IOD positif.

BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak angin kencang, hujan lebat, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat perlu memperhatikan perkembangan cuaca menjelang akhir 2026 karena kondisi atmosfer dapat berubah secara lokal meskipun secara umum musim kemarau masih berlangsung.

Share This Article