In – Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026, Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menggelar acara besar bertajuk “KOWANI Goes to UNESCO” di pusat ibu kota. Kegiatan ini sekaligus meneguhkan posisi KOWANI sebagai lokomotif diplomasi budaya nasional.
Perhelatan tersebut berhasil menghimpun para pemimpin dan perwakilan dari 111 organisasi perempuan dari seluruh Indonesia. Menurut Ketua Umum KOWANI, Ibu Nannie Hadi Tjahjanto, kehadiran 111 organisasi itu bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan sikap kolektif bahwa perempuan Indonesia bersatu padu di belakang satu misi besar: memastikan kebaya diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) milik Indonesia.
Dalam orasi kebudayaannya, Ibu Nannie menyampaikan bahwa momentum Hari Kartini 2026 harus menjadi titik balik bagi kedaulatan budaya bangsa. Ia menjelaskan, kebaya adalah benang merah yang menyatukan keberagaman Nusantara, sebuah busana yang melampaui batasan etnis dan strata sosial. Langkah “Goes to UNESCO” ini juga dinilainya sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada perjuangan RA Kartini yang dahulu menggunakan kebaya sebagai simbol perlawanan dan martabat intelektual.
“Dengan hadirnya 111 organisasi keperempuanan, KOWANI ingin menunjukkan kepada komunitas internasional bahwa dukungan untuk kebaya bersifat inklusif dan mengakar kuat, termasuk didukung penuh oleh seluruh elemen masyarakat dari berbagai latar belakang profesi, agama, dan daerah,” ujar Ibu Nannie dalam rilis media yang diterima di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Rangkaian acara juga dimeriahkan dengan penandatanganan dokumen “Komitmen Ibu Bangsa” oleh seluruh ketua umum dari 111 organisasi yang hadir. Dokumen ini akan menjadi bukti otentik partisipasi masyarakat (community involvement), yang merupakan syarat krusial dalam penilaian berkas oleh komite UNESCO di Paris.
KOWANI secara sadar mengambil peran sebagai fasilitator utama yang memastikan setiap organisasi perempuan di tanah air, dari Sabang hingga Merauke, memiliki rasa kepemilikan yang sama terhadap proses pengajuan ini. Sinergi tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa pelestarian budaya hanya menjadi beban pemerintah, melainkan tanggung jawab moral setiap individu di bawah naungan organisasi kewanitaan.
Selain aspek administratif, KOWANI meluncurkan kampanye literasi budaya untuk mengedukasi generasi muda mengenai ragam dan filosofi kebaya Nusantara. Ibu Nannie mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO hanyalah awal, karena tugas yang lebih berat adalah menjaga kebaya tetap menjadi living heritage atau warisan yang hidup.
“Melalui kekuatan jejaring 111 organisasi yang menyentuh jutaan anggota di seluruh pelosok negeri, KOWANI berkomitmen untuk memasyarakatkan kembali penggunaan kebaya dalam berbagai ruang publik, menjadikannya busana yang adaptif terhadap zaman tanpa harus menanggalkan pakem dan identitas aslinya,” ungkapnya.
Perayaan Hari Kartini 2026 ditutup dengan parade visual yang memukau, di mana ribuan perempuan dari 111 delegasi organisasi tampil dengan kebaya khas daerah masing-masing, menciptakan mozaik budaya di hadapan publik. KOWANI yang memiliki status konsultatif di ECOSOC Perserikatan Bangsa-Bangsa berjanji akan terus mengawal proses diplomasi hingga kebaya resmi ditetapkan sebagai milik Indonesia di mata dunia.
Masyarakat yang ingin memberikan dukungan atau mengetahui perkembangan pendaftaran ini dapat menghubungi sekretariat humas di Gedung KOWANI Jakarta.
