Oleh: Fathor Rois*
In – Bulan Ramadan adalah bulan yang agung. Di bulan ini, ada satu peristiwa bersejarah yang menjadi pondasi petunjuk hidup kita, yaitu Nuzulul Quran, turunnya Al-Quran. Lebih dari sekadar peringatan tahunan, momen ini adalah reminder terbaik untuk bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh apa hubunganku dengan kitab suci ini?
Hubungan kita dengan Al-Quran setidaknya terangkai dalam tiga kewajiban utama: mengimaninya, membacanya, dan menjadikannya tuntunan hidup (way of life).
Pertama, mengimaninya. Mengimani Al-Quran adalah fondasi. Yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa ia adalah firman Allah, bukan karangan manusia. Selain sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW., yang paling penting adalah bahwa Al-Quran merupakan sumber kebenaran yang pasti akan selalu relevan dalam setiap ruang dan waktu. Iman ini harus tertanam kokoh di dada, menjadi akar yang menopang seluruh aktivitas keislaman kita.
Kedua, membacanya. Inilah jembatan pertama yang menghubungkan hati kita dengan firman-Nya. Namun, di sinilah seringkali terjadi problem, terutama di kalangan remaja.
“Ngaji sampai usia SMP”. Kita sering melihat fenomena ini? Anak-anak kecil ramai mengaji di langgar atau musala. Suara mereka lantang belajar huruf hijaiyah. Tapi, begitu menginjak usia SMP, satu per satu kursi ngaji mulai kosong. Karena merasa sudah “besar”, lalu mereka meninggalkan langgar, padahal ngajinya masih terbata-bata. Bahkan walaupun sudah lancer sekalipun masih ada lautan ilmu yang perlu didalami. Salah satunya adalah Gharaibul Quran atau bacaan-bacaan “aneh”, seperti yang disebut isymam, imalah, tas-hil, saktah, dan lain-lain.
Lebih disayangkan lagi fenomina terjadi di desa-desa. Kalau di kota, mungkin orang tua harus merogoh kocek dalam untuk kursus Al-Quran. Namun di desa, langgar-langgar berdiri atas dasar kepedulian dan semangat gotong-royong. Tidak ada iuran, tidak ada pungutan. Guru ngaji mengajar hanya mengharap ridha Allah dan ingin memasyarakatkan Al-Quran dan meng-Quran-kan masyarakat. Kesempatan murah ini seringkali tidak dimanfaatkan maksimal oleh para remaja yang malu disebut “anak ngaji” hanya karena badan mulai tinggi.
Bagi kita yang sudah dewasa, jika ingin membaca Al-Quran setiap hari, kuncinya adalah menghadirkan mushaf dalam jangkauan. Letakkan Al-Quran di tempat salat, di meja kecil atau tempat yang mudah dijangkau saat duduk. Mengapa? Karena sifat manusia cenderung malas. Jika mushaf diletakkan di lemari atas, kita harus berdiri mengambilnya. Dalam kondisi malas, niat berdiri itu seringkali berubah bukan untuk mengambil Al-Quran, tetapi untuk pergi tidur atau melakukan aktivitas lain. Dengan meletakkannya di dekat kita, godaan untuk pindah aktivitas berkurang, dan lisan pun senantiasa basah dengan firman-Nya.
Ketiga, menjadikannya sebagai tuntunan hidup. Jika iman adalah akar dan membaca adalah jembatan, maka menjadikannya pedoman hidup adalah buahnya. Al-Quran bukan sekadar bacaan ritual untuk mencari pahala, meskipun itu mulia. Ia adalah manual book kehidupan. Jangan takut sengsara apalagi celaka karena menjadikan Al-Quran sebagai kurikulum kehidupan.
Ia mengajarkan kita bagaimana berbisnis dengan jujur, bagaimana berumah tangga dengan penuh cinta, bagaimana menyelesaikan konflik, bahkan bagaimana berekspresi di media sosial dengan bijak. Ketika kita menjadikan Al-Quran sebagai way of life, maka hidup ini akan terasa lebih ringan karena kita yakin ada Dzat yang Maha Mengatur di atas segala rencana kita.
Di momen Nuzulul Quran ini, mari kita perbaiki lagi ikatan kita. Jangan biarkan Al-Quran hanya menjadi hiasan di rak buku atau sekadar bacaan di bulan Ramadan saja.
Untuk para remaja yang malu ngaji ke langgar, ingatlah: malu itu bukan ngaji padahal sudah besar, malu itu sudah besar tetapi tak bisa ngaji.
Merapatlah pada Al-Quran. Baca, pelajari, dan amalkan. Karena semakin kau merapat padanya, ia akan menjagamu dari kegersangan jiwa, menuntunmu di jalan yang lurus, dan menjadi penerang di alam kubur kelak. Ia adalah petunjuk, dan dengan berpegang teguh padanya, kita tak akan pernah tersesat. Selamat memperingati Nuzulul Quran.
*Guru Ngaji asal Sumenep
