In – Salam tiga jari atau three-finger salute kembali terlihat dalam aksi demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Komisi Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) dalam momentum Hari Sumpah Pemuda di Kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Gestur tersebut menjadi perhatian karena kerap digunakan dalam gerakan mahasiswa sebagai simbol solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Lantas, bagaimana sejarah dan makna salam tiga jari yang sering muncul dalam berbagai aksi demonstrasi tersebut?
Dikutip dari The Guardian, salam tiga jari yang populer melalui film The Hunger Games kemudian berkembang menjadi simbol solidaritas bagi gerakan prodemokrasi di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, Myanmar, dan Indonesia.
Simbol yang berasal dari budaya populer itu digunakan aktivis untuk menyampaikan pesan politik, terutama berkaitan dengan kebebasan dan penolakan terhadap pemerintahan otoriter.
Berawal dari Film The Hunger Games
Dalam film The Hunger Games, salam tiga jari menggambarkan solidaritas masyarakat yang berjuang mendapatkan kebebasan dari kekuasaan otoriter. Seiring waktu, gestur tersebut diadopsi oleh sejumlah gerakan politik di dunia nyata.
Penggunaan simbol ini dalam aksi demonstrasi di Asia Tenggara semakin dikenal setelah terjadi kudeta militer di Thailand pada Mei 2014.
Saat itu, sebagian masyarakat menyampaikan penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer melalui berbagai bentuk aksi, termasuk penggunaan salam tiga jari. Gestur tersebut bahkan sempat dilarang oleh pihak berwenang Thailand.
Aktivis prodemokrasi Thailand, Sirawith Seritiwat, menyebut simbol itu dengan cepat diikuti demonstran lainnya hingga menjadi salah satu bentuk ekspresi penentangan terhadap kudeta.
Gestur tersebut dinilai mudah dikenali dan menyampaikan pesan mengenai kebebasan, kesetaraan, serta solidaritas. Pesan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter dalam The Hunger Games juga dianggap relevan dengan situasi politik yang dihadapi para demonstran.
Digunakan dalam Gerakan Prodemokrasi Myanmar
Salam tiga jari juga menjadi simbol perlawanan masyarakat Myanmar setelah militer mengambil alih kekuasaan pada Februari 2021.
Gestur tersebut pertama kali digunakan oleh sejumlah tenaga medis pada awal Februari, kemudian diikuti oleh demonstran muda yang menolak kudeta militer.
Pada 8 Februari 2021, salam tiga jari terlihat dalam aksi demonstrasi besar di Yangon. Penggunaannya menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan solidaritas dan penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan.
Sejak saat itu, simbol tiga jari semakin dikenal sebagai salah satu bentuk ekspresi politik yang digunakan oleh gerakan prodemokrasi di kawasan Asia Tenggara.
Meski sering dikaitkan dengan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, makna gestur tersebut tidak selalu seragam. Penafsirannya dapat berbeda bergantung pada konteks politik, kelompok yang menggunakannya, dan tujuan aksi yang sedang berlangsung.
Pesan BEM UI dalam Aksi 28 Oktober
Dalam aksi demonstrasi pada 28 Oktober 2026, BEM UI turut menampilkan simbol tiga jari melalui unggahan di akun Instagram resmi @bemui_official.
Unggahan tersebut disertai tulisan, “sadar dipalak, sadar dibakar, sadar dimiskinkan”.
BEM UI juga menyampaikan pesan, “Kami sadar dan akan melawan,” sebagai bagian dari pernyataan yang menyertai simbol tersebut.
Penggunaan salam tiga jari dalam aksi ini menunjukkan bagaimana simbol yang dikenal melalui budaya populer dapat berkembang menjadi medium penyampaian aspirasi politik.
Namun, makna gestur tersebut tetap perlu dipahami berdasarkan konteks masing-masing gerakan. Salam tiga jari tidak selalu memiliki penafsiran politik yang sama dalam setiap demonstrasi.
