Kayu Gelondongan Masih Mengapung di Perairan Dungkek, Nelayan Kehilangan Rasa Aman

alibanunkalim
3 Min Read
Tampak Kayu Gelondongan Masih Mengapung di Perairan Dungkek

In – Selama tiga hari tiga malam, nelayan di tiga desa di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dilanda kecemasan. Mereka terpaksa terus mengawasi perahu yang ditambatkan di pesisir karena ratusan kayu gelondongan berukuran raksasa masih mengapung di sekitar perairan setempat.

Kayu-kayu raksasa tersebut diketahui terlepas dari TK Lintas Samudera XXIII yang ditarik TB Yamdena 03 dalam pelayaran dari Kalimantan Timur menuju Probolinggo. Gelondongan kayu itu kemudian terbawa arus hingga mencapai perairan dan pesisir Desa Dungkek, Bicabbi, serta Romben Guna.

Pemilik perahu di Desa Dungkek, Atbari, mengungkapkan bahwa kayu gelondongan tersebut telah merusak lambung perahunya yang bernama Sekar Arum. Papan pada bagian lambung rusak parah setelah dihantam kayu berukuran besar. Beruntung, perahunya tidak sampai karam karena ia segera menambal bagian yang rusak dengan bahan seadanya dan menguras air yang masuk ke dalam perahu.

“Beruntung tidak sampai karam. Saya cepat-cepat menambal dan menguras air yang masuk,” kata Atbari kepada Awak Media, Selasa (22/9/2026).

Sejak kejadian itu, Atbari bersama nelayan lainnya tidak berani meninggalkan perahu mereka terlalu lama. Mereka terus memantau kondisi perahu, terutama ketika air laut mulai pasang hingga malam hari. Saat pasang, kayu-kayu gelondongan tersebut ikut mengapung dan bergerak mengikuti arus. Pergerakannya sulit diprediksi sehingga sewaktu-waktu dapat kembali membentur perahu yang ditambatkan di pesisir.

Kondisi ini menempatkan nelayan dalam posisi sulit. Jika perahu dibawa menjauh dari pantai, mereka harus menghadapi cuaca laut yang buruk. Namun, jika perahu tetap ditambatkan di pesisir, ancaman benturan kayu gelondongan masih membayangi.

Pemilik perahu lainnya, Atra, yang menggunakan perahu bernama Mawar, juga merasakan kecemasan serupa. Ia mengaku harus lebih sering memantau perahunya, terutama pada malam hari.

“Setiap malam harus terus bersiaga. Gerakan kayu itu tidak bisa diprediksi,” ujar Atra.

Kecemasan juga dirasakan Fathor, nelayan asal Desa Romben Guna. Sejak tiga malam terakhir, ia lebih sering mendatangi lokasi perahunya untuk memastikan tidak ada gelondongan kayu yang mendekat. Fathor khawatir kayu-kayu berukuran besar yang masih berada di laut kembali terbawa arus menuju pantai dan menghantam perahu nelayan.

“Ya khawatir Pak,” kata dia.

Sebelumnya, TK Lintas Samudera XXIII yang ditarik TB Yamdena 03 membawa 697 batang kayu gelondongan dari Kalimantan Timur menuju Probolinggo. Dalam perjalanan, sekitar 405 batang kayu terlepas akibat cuaca buruk. Ratusan kayu tersebut kemudian tersebar di perairan dan pesisir tiga desa di Kecamatan Dungkek pada Sabtu petang (19/9/2026). Hingga Senin (21/9/2026), warga masih mendata kayu yang terdampar sementara nelayan tetap waspada untuk melindungi perahu mereka.

Share This Article