Dari Limbah Bambu ke Peluang Ekspor, Mahasiswa Family of UINSA Sumenep Belajar Anyaman Topi Jerami di Desa Dasuk Laok

alibanunkalim
4 Min Read
Foto Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Family of UINSA Sumenep di Desa Juruan Laok

In – Siapa sangka, limbah bambu yang kerap dipandang sebelah mata justru menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan hingga ke pasar mancanegara. Keyakinan inilah yang mendorong Organisasi Family of UINSA Sumenep menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Dusun Kombang, Desa Dasuk Laok, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada hari ini.

Dalam kegiatan yang berlangsung penuh keakraban tersebut, puluhan mahasiswa terjun langsung ke tengah komunitas pengrajin setempat. Mereka tak sekadar mengamati, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses pengolahan bambu menjadi topi anyaman khas Dasuk, sebuah kerajinan yang telah lama menjadi komoditas unggulan warga, meski belum banyak dikenal luas.

Ketua Pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa program ini lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap kekayaan lokal yang belum tergarap optimal. Ia menekankan bahwa peran mahasiswa bukan hanya di bangku kuliah, melainkan juga sebagai agen perubahan yang mampu mengangkat potensi desa ke permukaan.

“Kami melihat ada energi luar biasa di Dusun Kombang. Limbah bambu yang terbuang begitu saja, di tangan warga sini bisa menjelma menjadi karya seni bernilai jual tinggi. Kami datang bukan untuk menggurui, tapi untuk belajar dan bersinergi,” ujarnya dalam sela-sela pelatihan (06/07/2026).

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya jiwa technopreneurship bagi generasi muda desa. Menurutnya, topi jerami dari Dasuk memiliki kualitas yang tak kalah dengan produk anyaman dari daerah lain yang sudah lebih dulu mendunia. Karena itu, ia berharap pelatihan ini menjadi pintu masuk bagi pengembangan usaha yang lebih serius, dari sekadar kerajinan sampingan menjadi industri kreatif berdaya saing global.

“Kami ingin produk Dasuk tidak hanya dikenal di Sumenep, tapi juga menembus pasar ekspor. Itu mimpi besar, tapi sangat mungkin diwujudkan dengan manajemen yang baik dan pendampingan berkelanjutan,” tambahnya.

Untuk membekali para peserta dengan keterampilan praktis, kegiatan ini menghadirkan Rudi, seorang pengrajin muda asli Desa Dasuk yang telah bertahun-tahun menekuni anyaman bambu. Dengan sabar, Rudi membimbing mahasiswa mulai dari tahap pemilihan bambu berkualitas, penyerutan, hingga teknik menganyam yang halus dan kuat.

“Bambu itu fleksibel. Bagian-bagian yang dianggap sisa justru bisa menjadi anyaman yang indah kalau diolah dengan telaten. Prosesnya memang butuh kesabaran, tidak bisa instan,” jelas Rudi saat memperagakan gerakan tangan yang lincah menganyam.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian hasil kerajinan warga Dasuk selama ini sudah menembus pasar luar daerah, bahkan hingga ke mancanegara. Hanya saja, potensi ini masih kurang tersosialisasi dengan baik. Kehadiran mahasiswa, menurutnya, menjadi angin segar karena bisa membantu memperkenalkan produk lokal ke publik yang lebih luas.

“Saya senang sekali melihat semangat adik-adik mahasiswa. Meski baru pertama kali mencoba dan hasilnya masih kaku, mereka terus berlatih sampai bisa. Itu semangat yang luar biasa,” puji Rudi dengan hangat.

Antusiasme tidak hanya datang dari mahasiswa. Warga setempat, khususnya para pemuda Dusun Kombang, juga turut meramaikan kegiatan. Suasana pelatihan berlangsung cair dan penuh tawa, namun tetap serius dalam proses belajar-mengajar.

Kegiatan pengabdian ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan. Ke depan, pendampingan tidak hanya terbatas pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga mencakup strategi pengemasan yang menarik dan pemasaran digital, agar topi jerami khas Dasuk semakin dikenal luas dan mampu bersaing di kancah global.

Dengan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat seperti ini, ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di pelosok Sumenep diharapkan terus tumbuh. Selain membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda desa, langkah ini sekaligus menjaga kelestarian keterampilan anyaman tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dasuk.

Penulis: Muhammad Adfan MajdiMahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, FUF UINSA

Share This Article