In – Aksi protes warga terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) mulai tampak di sejumlah ruas jalan di Kota Surabaya. Tembok-tembok di lokasi strategis kini dipenuhi grafiti bernada protes bertuliskan “Turunkan Harga Kami Lapar Cok”.
Pantauan dalam sepekan terakhir menunjukkan coretan dengan cat semprot hitam dan merah tersebut muncul di sejumlah titik, antara lain di Jalan Kerta Jaya, Jalan Dr. Soetomo, Jalan Kerta Jaya Indah, Jalan Rungkut, dan Jalan Wonokromo. Beberapa coretan juga terlihat di area pasar tradisional dan dinding fasilitas umum.
Fenomena ini berlangsung seiring melambungnya harga komoditas dapur seperti beras, telur ayam, cabai, bawang merah, dan minyak goreng sejak Maret hingga April 2026. Selain itu, kenaikan harga BBM sebelumnya turut memicu efek domino terhadap biaya transportasi dan distribusi barang.
Salah seorang pedagang di kawasan Pasar Keputran, Sabtu (13/6/2026), mengaku bahwa tulisan di tembok tersebut mencerminkan suara rakyat kecil. “Kami pedagang kecil yang paling terkena dampak. Modal naik, pembeli sepi karena daya beli turun. Tulisan di tembok itu mewakili suara kami. Wong cilik sudah lapar beneran,” ujarnya.
Penggunaan kata “Cok” dalam coretan tersebut dinilai memperkuat identitas lokal sebagai warga Surabaya. Bagi sebagian warga, aksi ini bukan sekadar vandalisme, melainkan bentuk jeritan dari masyarakat bawah yang tertekan kondisi ekonomi.
Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Kota Surabaya belum memberikan keterangan resmi terkait maraknya grafiti protes tersebut. Sejumlah coretan terlihat sudah ditutup dengan cat oleh petugas kebersihan, tetapi foto-fotonya telah menyebar luas di media sosial dan grup WhatsApp.
