In – Mahasantri Ma’had Aly Al-Karimiyah menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi” pada Sabtu, (6/6/2026) sebagai upaya merawat ruang belajar yang inklusif dan progresif. Kegiatan ini bertujuan menjadi wadah refleksi kolektif sekaligus penguatan kesadaran kritis mahasantri terhadap persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan di Indonesia.
Presiden Mahasantri Ma’had Aly Al-Karimiyah, Ahmad Romdan, dalam sambutannya menegaskan bahwa keterlibatan mahasantri dalam membedah film ini membuktikan kaum santri tidak menutup mata terhadap realitas di luar pesantren. Menurutnya, film “Pesta Babi” bukan sekadar tontonan, melainkan medium dakwah dan refleksi yang relevan di era modern.
“Dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar masjid. Karya seni, termasuk film, adalah instrumen tajam untuk memotret realitas. Film ‘Pesta Babi’ menjadi cermin penyakit sosial seperti keserakahan dan kerakusan duniawi,” ujar Romdan.
Ia mengajak seluruh mahasantri untuk terus berperan aktif dalam dinamika kebangsaan dan menunjukkan bahwa mereka melek serta peduli terhadap isu-isu sosial, bukan kelompok yang termarginalkan.
Wakil Presiden Mahasantri, Moh. Hayat, yang bertindak sebagai pemantik diskusi, mengupas tuntas bagaimana film tersebut merekam potret realitas di Papua. Ia menekankan bahwa karya visual ini harus melahirkan kepedulian universal dan kontekstual.
“Kita harus sadar dan mulai melihat kondisi lingkungan sekitar. Kepedulian terhadap Papua harus menjadi pintu masuk untuk lebih peduli terhadap ruang hidup yang kita tempati hari ini,” jelas Hayat.
Hadir sebagai pemateri utama, Presiden Mahasiswa UNIBA Madura 2025, M. Rofiqul Mukhlisin, memberikan penegasan moral tentang pentingnya keberanian bersikap di tengah krisis sosial. Ia mengingatkan akademisi agar tidak terjebak dalam sikap apatis.
“Ketika kita memilih diam, sejatinya itu juga sebuah pilihan. Penting bagi setiap mahasiswa dan mahasantri untuk memiliki keberpihakan tegas terhadap nilai-nilai keadilan,” tutur Rofiqul.
Ia menambahkan bahwa eksploitasi hutan di Papua merupakan persoalan struktural menahun yang telah berlangsung lintas periode pemerintahan. Meskipun berbagai gerakan penolakan di masa lalu kerap menemui kegagalan, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti menyuarakan kebenaran.
Acara berlangsung interaktif dengan diskusi dan debat gagasan yang dinamis. Seluruh peserta sepakat bahwa mahasiswa dan mahasantri memiliki peran strategis sebagai agen intelektual. Dalam bingkai nilai-nilai pesantren, mereka berkomitmen untuk tetap peka, adaptif, dan konsisten mengawal isu kemanusiaan serta kelestarian lingkungan demi kemaslahatan umat.
