In – Gema takbir mungkin sudah berlalu sepekan lamanya, namun bagi masyarakat Madura, puncak perayaan Idul fitri justru baru benar-benar terasa pada hari kedelapan bulan Syawal. Tradisi ini dikenal dengan nama Tellasan Topa’ (Lebaran Ketupat). Di tahun 2026 ini, tradisi tersebut tetap menjadi magnet budaya yang tidak hanya sakral secara religius, tetapi juga meriah secara sosial.
Bagi orang luar, ini mungkin hanya ritual makan ketupat biasa. Namun bagi warga di empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), Tellasan Topa’ memiliki kedudukan yang hampir setara, bahkan terkadang dianggap lebih spesial daripada hari H Idul fitri.
Hal ini bermula dari tradisi menjalankan puasa sunnah Syawal selama enam hari (tanggal 2 hingga 7 Syawal). Tellasan Topa’ menjadi simbol kemenangan bagi mereka yang menyempurnakan ibadah puasanya.
“Tellasan Topa’ adalah ruang kegembiraan setelah menunaikan puasa enam hari. Ini adalah bentuk syukur yang diwujudkan melalui kebersamaan,” tulis laporan salah satu media lokal mengutip sesepuh adat di Pamekasan.
Di Kabupaten Sumenep, perayaan ini kini telah bertransformasi menjadi agenda wisata unggulan melalui Festival Ketupat. Pada perayaan terbaru di Pantai Lombang, ribuan warga berkumpul menyaksikan berbagai pertunjukan yang diiringi musik uldaul.
Beberapa keunikan yang tetap terjaga hingga kini antara lain:
• Ter-ater (Hantaran): Sejak pagi buta, para perempuan Madura sibuk mengantarkan piring-piring berisi ketupat dan lauk pauk (biasanya soto ayam, campor, atau kaldu) ke rumah tetangga dan kerabat.
• Ritual Nyelase: Selain bersilaturahmi antar manusia, warga juga melakukan ziarah kubur atau nyelase ke makam leluhur dan para wali (asta) sebagai bentuk penghormatan.
• Wisata Massal: Pantai-pantai di Madura seperti Pantai Camplong (Sampang) dan Pantai Lombang (Sumenep) akan dipadati lautan manusia. Bagi perantau yang melakukan tradisi toron, Tellasan Topa’ seringkali menjadi hari terakhir mereka di kampung halaman sebelum kembali ke tanah rantau (onggha).
Secara filosofis, ketupat atau topa’ dalam budaya Madura bukan sekadar karbohidrat. Anyaman janur yang rumit melambangkan kesalahan manusia yang bertumpuk, namun saat dibelah, terlihat bagian dalam yang putih bersih simbol hati yang telah suci setelah bermaaf-maafan.
Sikap guyub dan gotong royong sangat kental saat proses pembuatan. Meskipun sekarang banyak yang memilih membeli selongsong ketupat jadi di pasar, di pelosok desa, tradisi menganyam bersama sambil bercengkerama tanpa ghibah (menggunjing) masih menjadi pemandangan hangat di teras-teras rumah warga.
Tellasan Topa’ adalah bukti bahwa masyarakat Madura mampu menjaga harmoni antara ajaran agama dan warisan leluhur. Di tengah arus modernisasi, aroma janur yang dikukus di atas tungku tetap menjadi pengingat paling kuat tentang jalan pulang ke akar budaya.
