Konfercab PC IPNU Sumenep di Tepian Jurang

fathorrosy
4 Min Read
Gambar hanya ilustrasi

In – Di ambang pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) PC IPNU Sumenep 2026, sebuah peringatan dini datang dari lantai paling bawah struktur organisasi. Bukan tanpa alasan, Ketua PKPT IPNU Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Moh Ali Banun Kalim, merasa perlu mengangkat suara. Baginya, Konfercab kali ini seperti berjalan di tepian jurang: bisa menjadi lompatan maju, atau justru terperosok ke dalam rutinitas kosong yang tak pernah berubah.

“Konfercab ini harus kita tempatkan sebagai titik balik. Pertanyaannya sederhana, apakah forum ini benar-benar melahirkan pemimpin visioner, atau hanya sekadar mengganti figur tanpa arah yang jelas?” tegas Kalim dalam pernyataan sikapnya, pada Sabtu Malam (11/4/2026).

Ia menilai bahwa selama ini Konfercab lebih sering didominasi oleh politik internal perebutan posisi, bukan adu gagasan atau perumusan program strategis. Dan di situlah jurang itu menganga: antara seremoni dan substansi, antara euforia sesaat dan perubahan nyata.

Pertama, soal minimnya ruang partisipasi kader komisariat (PKPT). Kalim menyoroti bahwa mereka yang paling dekat dengan realitas pelajar dan mahasiswa justru kerap tak dilibatkan dalam menentukan arah kebijakan organisasi. Padahal, tanpa suara mereka, kebijakan yang lahir akan kehilangan akar.

Kedua, substansi pembahasan yang belum menyentuh persoalan riil kader. Menurut Kalim, IPNU Sumenep harus mampu melahirkan program kerja yang konkret, relevan, dan adaptif terhadap tantangan zaman, terutama di era digital. Jika pembahasan hanya berputar pada wacana yang itu-itu saja, maka Konfercab hanya akan menjadi panggung tanpa pertunjukan.

Ketiga, penguatan kaderisasi sebagai ruh organisasi. Kalim mengingatkan bahwa tanpa sistem kaderisasi yang terarah dan berkelanjutan, IPNU berpotensi kehilangan identitas perjuangannya.

“IPNU tidak boleh hanya sibuk mengganti nama ketua, tetapi harus mampu mencetak pemimpin yang punya visi, keberanian, dan komitmen terhadap kader serta masyarakat,” ujarnya.

Namun, kritik Kalim tidak berhenti di tiga poin itu. Ia juga menegaskan bahwa IPNU sebagai organisasi pengkaderan Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya bergerak di ruang internal. Perluasan jaringan dan pengaruh termasuk membangun komunikasi aktif dengan pemerintah dan pemangku kepentingan strategis adalah sebuah keharusan.

“Membangun komunikasi dengan pemerintah adalah bagian dari ikhtiar memperjuangkan aspirasi pelajar dan menunjukkan bahwa IPNU benar-benar hadir di Sumenep,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengkritisi arah basis kaderisasi yang selama ini dinilai meleset. Menurut Kalim, tantangan terbesar IPNU justru terletak pada pembinaan kader dari tingkat paling dasar para pelajar yang masih minim pengalaman dan kemampuan.

“Basis pengkaderan IPNU itu bukan mereka yang sudah siap pakai, tapi siswa-siswa yang belum bisa apa-apa. Di situlah tantangan kita bagaimana membentuk, membimbing, dan menguatkan mereka hingga menjadi kader yang militan dan berkualitas,” ungkapnya.

Tak lupa, Kalim mendorong agar pelaksanaan Konfercab dilakukan secara transparan, profesional, dan akuntabel. Menurutnya, hal ini penting untuk menjaga marwah organisasi sekaligus mempertahankan kepercayaan kader terhadap kepengurusan cabang.

Sebagai penutup, ia berharap Konfercab PC IPNU Sumenep kali ini mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya sah secara struktural, tetapi juga kuat secara moral dan intelektual.

“Kami berharap, Konfercab ini tidak berhenti pada seremoni dan euforia sesaat. Harus ada arah gerakan yang jelas, progresif, dan benar-benar berpihak pada kepentingan kader,” pungkas Kalim.

Pertanyaannya kini menggantung apakah Konfercab 2026 akan menjadi jembatan menuju perbaikan, atau justru langkah lain menuju tepian jurang yang sama?

Share This Article