Ketika Imam “Disetir” Makmum

fathorrosy
3 Min Read
Gambar hanya ilustrasi

Oleh: Fathor Rois*

In – Masih ingat pidato alm. KH. Zainudin MZ. “Kasihanilah tiga orang ini; orang mulia yang jatuh hina, orang kaya yang jatuh miskin, dan orang alim yang dipermainkan oleh orang-orang bodoh.” Itu adalah kutipan dari pernyataan seorang ulama besar, Fudail bin Iyadl.
Fenomena yang terakhir ini makin ke sini makin terasa nyata. Kita sering melihat sosok yang seharusnya menjadi “kompas” moral, justru malah “disetir” oleh keinginan makmum atau pengikutnya. Mereka tersandera oleh hubbud dunya (cinta dunia), atau dalam bentuk yang paling halus: takut kehilangan panggung dan pengikut.

Mari kita bedah tiga potret nyata bagaimana kiai kita kadang “menyerah tanpa syarat” kepada orang awam.

1. Bayi “Alex” dan Kreativitas yang Dipaksakan

Suatu hari, seseorang datang kepada kiai, meminta nama untuk bayinya. Tapi alih-alih pasrah pada pilihan kiai yang biasanya penuh makna islami, orang tua itu malah mendikte: “Berilah nama yang panggilannya Alex, tapi yang ada Arab-arabnya.”
Karena sungkan dan takut jamaahnya pindah ke lain imam, akhirnya kiai memutar otak keras-keras, sampai ketemulah nama: “Alaikas Salam”. Secara bahasa memang Arab, tapi secara sunnah, agak jauh lompatannya. Inilah bentuk “kekalahan” pertama; ajaran agama ditekuk sedemikian rupa demi memuaskan selera pasar.

2. Tarawih “Kilat” Demi Rating Jamaah

Masuk ke bulan Ramadan, godaan ini makin kuat. Awalnya, kiai ingin menegakkan salat tarawih dengan thumaninah, tenang, dan khusyuk. Namun, baru dua rakaat, jamaah sudah kasak-kusuk. Bahasa isyarat mereka jelas: “Kalau lambat begini, besok kita pindah ke musholla sebelah yang lebih ngebut!”
Khawatir masjidnya sepi, kiai pun mengubah pola tarawihnya, dari pola serius menjadi pola “mainan”. Mengapa? Lagi, karena takut ditinggalkan. Kualitas ibadah dikorbankan demi menjaga kuantitas follower.

3. Karnaval vs Esensi Pendidikan

Fenomena ketiga muncul saat musim kelulusan atau imtihan. Kiai yang paham betul bahwa karnaval itu lebih banyak mudaratnya -mulai dari biaya tinggi, mengganggu jalan, tidak salat, hingga ikhtilat- mencoba melarangnya.
Eh, wali murid langsung pasang gertakan: “Kalau tidak ada karnaval, anak saya pindah sekolah saja tahun depan!” Hasilnya? Larangan dicabut, karnaval jalan terus. Kiai terpaksa melegitimatasi hal yang ia tahu kurang baik, hanya agar jumlah murid di lembaganya tidak merosot.
Menjaga Agama dan Harga Diri
Inilah potret pilu ketika “kursi” kepengikutan lebih dicintai daripada kebenaran. Padahal, tugas seorang alim bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan untuk membimbing orang menuju kebenaran.

Seorang kiai harus punya keberanian untuk berkata: “Yang benar adalah benar,” lalu mengamalkannya dan mengajak masyarakat mengikutinya, apapun risikonya. Begitu pula dengan yang salah, harus dikatakan salah dan ditinggalkan tanpa kompromi.

Jika pada akhirnya masyarakat meninggalkan sang kiai karena ketegasannya, maka itu jauh lebih terhormat. Kehilangan pengikut jauh lebih baik daripada kehilangan integritas. Lebih baik berdiri sendirian di atas kebenaran, daripada dikerumuni ribuan orang di jurang kebatilan. Sebab pada akhirnya, yang kita cari adalah rida Ilahi, bukan riuh rendah tepuk tangan manusia.

*Penulis sekaligus Guru Ngaji asal Sumenep

Share This Article