“Bismillah Melawan” Mantra Aktivis Senior yang Akan Kembali Robohkan Pagar Pemkab Sumenep

fathorrosy
3 Min Read
Abdul Mahmud (Mantan Ketua PC PMII Sumenep)

In — Kondusivitas Kabupaten Sumenep dinilai berada dalam ancaman serius. Setelah lama memilih diam di tengah pusaran konflik sosial, ekonomi, dan pembangunan, aktivis senior asal kepulauan, Abdul Mahmud, M.Ap, kembali muncul ke ruang publik dengan sikap tegas dan kritis terhadap arah kebijakan pemerintah daerah.

Sosok yang dikenal dengan julukan “Peroboh Pagar Pemkab” itu menyatakan kesiapannya kembali mengibarkan bendera perlawanan, demi menegakkan keadilan serta menjaga marwah demokrasi di Kabupaten Sumenep.

Dalam perbincangannya dengan media, Sabtu (20/12/2025) pukul 17.53 WIB, Abdul Mahmud mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi aktivisme di Sumenep yang menurutnya telah mengalami pembungkaman sistematis oleh kekuasaan.

“Saat ini, aktivis di Sumenep dihadapkan pada persoalan serius yang merusak tatanan demokrasi, supremasi hukum, dan kebebasan sipil,” tegasnya dengan nada geram.

Ia menilai kondisi tersebut bertentangan dengan amanat undang-undang dan telah melumpuhkan peran strategis mahasiswa serta aktivis sebagai kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.

Kemunculan kembali Abdul Mahmud di tengah menguatnya konflik horizontal memantik beragam spekulasi publik.

Terlebih, status WhatsApp miliknya yang belakangan beredar menampilkan simbol pengibaran bendera perlawanan, seolah menjadi penanda dimulainya kembali babak baru gerakan aktivisme di Sumenep.

Pertanyaan pun mencuat, akankah genderang perlawanan kembali menggema di langit Sumenep? Ataukah pemerintah justru akan kehilangan legitimasi akibat strategi pembangunan yang selama ini dikemas atas nama kesejahteraan rakyat?

Menurut Abdul Mahmud, kritik dan perlawanan merupakan dosis sehat bagi kekuasaan.

“Cara yang benar untuk menyuplai dosis kepada kekuasaan adalah dengan menyampaikan kritik dan menyalakan suara perlawanan,” ujarnya.

Ia mengaku kembali tergerak turun ke gelanggang perjuangan karena melihat semakin banyak ketidakadilan.

Aktivis dibungkam, ruang demokrasi menyempit, dan negara menurutnya sedang tidak berada dalam kondisi baik-baik saja.

Abdul Mahmud menilai pemerintahan saat ini telah keluar dari rel kerakyatan yang seharusnya menjadi pijakan utama.

Karena itu, ia menyerukan agar aktivis dan masyarakat kembali berani bersuara serta membangun gerakan kerakyatan yang selama ini dibatasi dan ditekan.

Dalam pernyataan penutupnya, aktivis yang akrab disapa “Singa Jalanan” itu menyerukan kebangkitan kembali tangan terkepal dan suara lantang rakyat, bahkan “dari dalam kubur sekalipun”, untuk terus menyoal kekuasaan dengan semangat “Bismillah Melayani.”

Share This Article