In – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka terkait pernyataannya yang menyinggung keterlibatan oknum ulama dan pesantren di Madura dalam jaringan narkoba. Permintaan maaf ini menyusul gelombang protes keras dari berbagai elemen masyarakat Madura, termasuk Aliansi Madura Indonesia (AMI) dan tokoh agama setempat.
Dalam keterangan resminya pada Minggu (12/4/2026), pria yang akrab disapa Habib Aboe ini menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menyudutkan institusi pesantren atau profesi ulama secara umum. Ia berdalih bahwa pernyataan yang dilontarkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama BNN dan Polri pada Selasa (7/4) tersebut semata-mata merupakan bentuk keprihatinan atas laporan yang ia terima.
”Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika pernyataan saya dalam forum resmi tersebut telah melukai perasaan para ulama, kiai, dan saudara-saudara saya di Madura. Tidak ada niatan sedikit pun untuk merendahkan muruah pesantren sebagai benteng moral bangsa,” ujar Aboe Bakar.
Ia menambahkan bahwa fokus utamanya adalah mendorong aparat penegak hukum untuk lebih intensif melindungi institusi pendidikan agama agar tidak disusupi oleh sindikat narkoba.
“Pesantren adalah tempat suci. Justru karena rasa sayang dan kekhawatiran saya itulah, saya meminta aparat benar-benar menjaga lingkungan tersebut dari bahaya laten narkotika,” imbuhnya.
Sebelumnya, pernyataan Aboe Bakar yang menyebut adanya ulama di Madura terlibat narkoba karena tergiur “cuan” memicu reaksi keras. Ketua Aliansi Madura Indonesia (AMI), Baihaki Akbar, sempat mengancam akan menempuh jalur hukum jika politisi senior tersebut tidak segera melakukan klarifikasi dan meminta maaf dalam waktu 3×24 jam.
