In — Musibah kebakaran yang menghanguskan 36 unit sepeda motor di area parkir Gunung Eteng, Desa Jukong-Jukong, Kecamatan Kangayan, menyisakan duka sekaligus sorotan tajam dari DPRD Sumenep. Anggota DPRD dari Fraksi PDIP, Wahyudi, menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan akses jalan yang layak menuju tiga desa di wilayah tersebut.
Peristiwa nahas terjadi Kamis malam (20/8/2026) di kawasan perbukitan yang jauh dari pemukiman penduduk. Puluhan sepeda motor milik warga Desa Cangkramaan, desa Tembayangan, dan desa Batuputih yang sengaja diparkir di lokasi tersebut ludes dilalap api. Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran yang diduga kuat akibat kelalaian atau tindakan kriminal.
Humas Polresta Sumenep, Ipda Ardan, membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan laporan sementara, jumlah kendaraan yang terbakar mencapai 36 unit. Lokasi parkir yang berada jauh dari permukiman diduga menjadi salah satu faktor sehingga peristiwa baru diketahui setelah api membesar.
“Laporan sementara terkait terjadinya kebakaran sepeda motor di parkiran Desa Jukong-Jukong, tepatnya di parkiran milik warga Desa Tembayangan di atas Gunung Eteng. Adapun jumlah sepeda motor yang terbakar keseluruhan sebanyak 36 unit,” ujar Ipda Ardan saat dikonfirmasi.
Anggota DPRD Sumenep Fraksi PDIP Dapil VIII Wahyudi, S.Sos., yang akrab disapa Didik, langsung merespons cepat kejadian ini. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan camat setempat untuk memastikan penanganan dan pendataan korban.
“Saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Ini adalah pelajaran penting bagi kita semua, terutama pemerintah daerah,” tegas Wahyudi dalam pernyataannya kepada media.
Wahyudi menyoroti akar masalah yang menurutnya bukan sekadar kebakaran, melainkan kegagalan infrastruktur. Ia menilai ketiadaan akses jalan layak menuju tiga desa Cangkramaan, Tembayangan, dan Batuputih hingga memaksa warga menitipkan kendaraan di lokasi terpencil tanpa pengamanan memadai.
“Kejadian ini tidak lepas dari tidak adanya akses jalan yang layak menuju tiga desa itu. Sepeda motor warga ditaruh di perbatasan yang tidak ada penjagaannya. Ini sangat rentan dan sudah saya khawatirkan sebelumnya,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar keprihatinan, Wahyudi menyampaikan dua harapan besar yang ia sebut sebagai tuntutan mendesak. Pertama, ia meminta aparat kepolisian bergerak cepat mengungkap pelaku jika terbukti ada unsur kesengajaan.
“Harapan saya ada titik terang siapa pelakunya dan diberikan tindakan tegas sesuai hukum yang berlaku. Ini penting agar kejadian serupa tidak terulang,” pintanya, pada Jumat pagi (21/8/2026).
Kedua, ia mendesak pemerintah kabupaten untuk segera merealisasikan pembangunan akses jalan yang layak menuju tiga desa tersebut. Menurutnya, pembangunan infrastruktur bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak dasar warga yang harus dipenuhi.
“Ke depannya, harus segera ada akses yang layak menuju tiga desa itu. Kalau di desa Jukong-Jukong sendiri infrastruktur jalannya sudah kami perbaiki tahun 2023-2024 kemarin sampai perbatasan. Ini adalah tuntutan saya dan masyarakat. Tidak boleh ada lagi warga yang mengorbankan kendaraan mereka hanya karena tidak ada jalan yang memadai,” pungkas Wahyudi dengan tegas.
Di tengah duka akibat kehilangan kendaraan yang menjadi alat transportasi utama, warga berharap adanya titik terang dari kasus ini. Mereka juga menaruh asa pada janji pemerintah untuk membangun akses jalan yang selama ini menjadi impian warga tiga desa terpencil tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Polresta Sumenep masih melakukan penyelidikan intensif, sementara pendataan korban dan kerugian material terus dilakukan oleh pemerintah kecamatan bersama pihak kepolisian.
