In – Generasi Emas Nusantara (GEN) Jawa Timur memperkuat komitmennya dalam mencetak petani milenial dan membangun kedaulatan pangan Indonesia. Komitmen ini diwujudkan melalui dukungan penuh terhadap Brigade Pangan dan penyelenggaraan Diklat Khusus Petani Muda Jawa Timur (Diklatsus Petani Muda Jatim), yang dirancang sebagai wadah pembinaan dan pemberdayaan pemuda di sektor pertanian.
Menurut Pengurus GEN Jatim, Anis Anwari, langkah ini diambil sebagai respons atas tantangan regenerasi petani di tengah modernisasi dan menurunnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian.
“Kami yakin masa depan pangan Indonesia berada di tangan anak muda. Lewat Brigade Pangan dan Diklatsus Petani Muda, kami ingin mengubah persepsi pemuda bahwa bertani adalah profesi yang mulia, modern, dan prospektif,” tegas Anis.
Program ini merupakan bagian dari visi besar GEN untuk mendorong pemuda sebagai penggerak kemandirian ekonomi daerah, sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan nasional. Melalui kolaborasi dengan organisasi kepemudaan, kampus, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, GEN berupaya menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan inklusif di Jawa Timur.
Senada dengan Anis, Muhammad Romli, Ketua GEN Jatim, menjelaskan bahwa Diklatsus Petani Muda Jatim akan memadukan pelatihan teknis pertanian modern, kewirausahaan pangan, serta digitalisasi berbasis data dan teknologi. Tak hanya membekali keterampilan bertani, program ini juga menanamkan nilai-nilai perjuangan, solidaritas sosial, dan semangat gotong royong di kalangan pemuda desa.
“Kami ingin mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya pandai bercocok tanam, tetapi juga mampu mengelola, memasarkan, dan menciptakan nilai tambah dari produk pangan lokal. Dari desa, kita wujudkan kedaulatan pangan bangsa,” tambah Romli.
Langkah strategis ini selaras dengan semangat Jawa Timur sebagai ‘Gerbang Baru Nusantara’, di mana kemandirian pangan menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi daerah. GEN berharap, dengan penguatan kapasitas pemuda dan dukungan terhadap Brigade Pangan Jatim, akan lahir petani-petani milenial yang mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan.
“Kami ingin menjadikan pertanian sebagai gaya hidup baru pemuda—bukan masa lalu yang ditinggalkan, melainkan masa depan yang diperjuangkan,” pungkasnya.
