In – Dewan Kerja Cabang (DKC) Gerakan Pramuka Sumenep menggelar Sarasehan Hari Pramuka 2026 dengan mengangkat tema kritis “Pramuka 2030: Bertahan, Berubah, atau Ditinggalkan”, Senin (31/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Jagha Tèmba, Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura) ini menjadi ruang strategis bagi seluruh elemen kepramukaan untuk merefleksikan arah gerakan di tengah gempuran perkembangan zaman.
Sarasehan tersebut menghadirkan empat narasumber, yaitu Muhammad Romli, Zamzami Sabiq, Khaeru Ahmadi, dan Moh. Hasyik, serta diikuti oleh peserta dari unsur Pramuka Penegak, Pandega, Pembina, dan Pelatih se-Kabupaten Sumenep.
Ketua DKC Sumenep, Haikal Maulana, menyatakan bahwa pemilihan tema sarasehan kali ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, gerakan Pramuka tidak cukup hanya bertahan dengan pola dan cara-cara lama.
“Kita harus berani berubah dan beradaptasi. Nilai-nilai luhur kepramukaan tetap harus kita pertahankan sebagai jati diri, namun cara, pendekatan, dan inovasi dalam berkegiatan wajib terus dikembangkan agar tidak ditinggalkan oleh generasi muda,” ujar Haikal di hadapan para peserta.
Ia menambahkan bahwa lanskap kehidupan generasi muda saat ini sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu. Oleh karena itu, Pramuka dituntut untuk hadir dengan wajah baru yang tetap berpijak pada dasar kodrati Gerakan Pramuka.
“Generasi muda hari ini hidup di era digital dan serba cepat. Pramuka harus mampu menjawab tantangan itu dengan pendekatan yang relevan, tanpa kehilangan esensi pendidikannya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Iron, mengungkapkan bahwa tema provokatif tersebut sengaja dihadirkan sebagai pemicu diskusi dan bahan perenungan bersama.
“Kami ingin mengajak seluruh peserta untuk jujur menilai, apakah metode yang kita jalankan saat ini masih efektif untuk menghadapi tantangan di tahun 2030. Ini adalah pertanyaan besar yang harus dijawab secara kolektif,” ungkap Iron.
Iron menekankan bahwa keberanian untuk berubah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi seluruh unsur Gerakan Pramuka, mulai dari Penegak, Pandega, Pembina, hingga Pelatih.
“Jika kita ingin Pramuka tetap menjadi ekosistem pengembangan diri yang dipilih oleh generasi muda, maka perubahan harus kita mulai saat ini, bukan lima tahun lagi. Semua elemen memiliki peran dalam membangun Pramuka yang lebih adaptif dan progresif,” lanjutnya.
Sepanjang forum berlangsung, para narasumber memaparkan berbagai perspektif mengenai peluang dan tantangan Pramuka ke depan. Diskusi yang berlangsung interaktif itu turut menyoroti pentingnya inovasi kegiatan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan peran Pramuka dalam isu-isu kontemporer yang dekat dengan keseharian anak muda.
Melalui sarasehan ini, DKC Sumenep berharap lahir gagasan-gagasan segar dan rekomendasi strategis yang tidak hanya menjadi wacana, tetapi mampu diimplementasikan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan Gerakan Pramuka di Kabupaten Sumenep.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum tegas bagi seluruh insan Pramuka untuk memaknai perubahan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kebutuhan. Pramuka 2030 bukanlah sekadar tentang bertahan atau berubah melainkan tentang keberanian bertransformasi agar tetap relevan, dibutuhkan, dan senantiasa dekat dengan semangat generasi muda.
