GEN Malang Raya Gelar Diskusi dan Nobar Film “Pesta Babi” di Malam Takbiran

fathorrosy
2 Min Read
Nobar dan Diskusi Film "Pesta Babi" GEN Malang Raya

In – Mengisi malam takbiran, Generasi Emas Nusantara (GEN) Malang Raya menggelar acara “Takbiran: Diskusi Publik & Nobar Film Pesta Babi” pada Selasa malam (26/5/2026) di Coffee Niskala, Kota Malang. Kegiatan ini bertujuan membedah isu lingkungan dan hak masyarakat adat.

Ketua GEN Malang Raya, Dandi Indrawanto, menegaskan bahwa forum ini dimaksudkan sebagai simbol “mengagungkan keadilan” dan merayakan kemenangan melawan ketidakberpihakan kepada kaum tertindas.

“Kami ingin memanfaatkan momentum di malam takbiran ini untuk merefleksikan kembali kondisi saudara-saudara kita di Papua. Film Pesta Babi memberi kita potret nyata bagaimana lingkungan dan hak-hak adat dikorbankan demi Proyek Strategis Nasional,” ujar Dandi.

Ia juga menyoroti representasi kekuasaan di Papua. “Kita tidak pernah tahu apa yang mereka rasakan dengan banyaknya aparat negara, apakah membuat mereka nyaman atau ketakutan,” tambahnya.

Sementara itu, Dosen Hukum Tata Negara Universitas Brawijaya, Dr. Dhia Al Uyun, S.H., M.H., mempertanyakan kondisi masyarakat pribumi yang tanahnya dirampas serta campur tangan aparat di sektor pertanian.

“Kalau aparat ikut menanam padi, lalu petani mau kerja apa?” ujarnya.

Dhia juga menyoroti polemik media sosial terkait salah satu pemeran dalam film tersebut yang merasa pernyataannya digunakan tanpa sepengetahuan dirinya dalam film dokumenter itu.

“Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dirasakan Mama Sinta. Dan kalau orang sudah tidak bisa melawan menggunakan narasi dan tidak mampu menjawab substansi, yang diserang akhirnya subjeknya,” jelasnya.

Di forum yang sama, Ketua Asosiasi Jawa Timur periode 2024-2028, Ahmad Sulaiman yang akrab disapa Mada, menyebut film ini menarik untuk membaca kondisi terkini.

“Film ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap kondisi saat ini,” ujar Mada.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap film tersebut sebagai produk seni sekaligus bentuk advokasi kreatif.

“Jangan berpikir bahwa mengadvokasi hanya dengan tulisan atau demo yang berbusa-busa. Menurut saya, ini bentuk kreatif bagaimana kita mengadvokasi dengan sebuah tontonan,” ungkapnya.

Share This Article