GEN Sumenep Ajak Masyarakat Lebih Empati Sosial Lewat Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT

fathorrosy
3 Min Read
Aliya Zahra (Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak GEN Sumenep)

In – Sebuah peristiwa memilukan datang dari Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang anak kelas IV SD, sebut saja YBS, memilih mengakhiri hidupnya. Pemicunya, bagi banyak orang, mungkin terlihat sepele ketiadaan uang untuk membeli buku tulis dan pulpen. Namun, di balik tindakan ekstrem itu, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam dan menyakitkan, sebuah potret buram tentang himpitan ekonomi yang meremukkan hati anak-anak dan perempuan.

Surat wasiatnya, yang ditulis untuk “Mama Reti” dalam bahasa daerah Ngada, bukan sekadar coretan. Itu adalah teriakan sunyi dari seorang anak yang memahami betul kepedihan ibunya. Sang ibu, seorang janda yang berjuang sendiri membesarkan lima anak sejak kandungan YBS, harus menolak permintaan paling dasar putranya. Dia mewakili wajah jutaan perempuan Indonesia yang terjepit dalam peran ganda pencari nafkah sekaligus pusat ketahanan keluarga. Bahkan, nenek berusia 80 tahun pun turut menjadi tumpuan terakhir, menunjukkan betapa rentannya struktur dukungan dalam keluarga miskin.

Dari kacamata perlindungan perempuan dan anak, tragedi ini adalah buah dari ketidakadilan berlapis. Banyak perempuan kepala keluarga menghadapi jalan terjal akses pekerjaan layak yang terbatas, dukungan sosial yang minim, dan beban psikologis yang tak terlihat. Tekanan ini tidak berhenti di diri mereka. Ia merembes, seperti racun pelan-pelan, ke dalam jiwa anak-anak yang menyaksikan kegigihan sekaligus kepasrahan orang tua mereka. YBS, dalam kepolosan dan rasa cintanya, mungkin merasa menjadi beban, sebuah beban yang akhirnya dianggap terlalu berat untuk ditanggung seorang anak. Ini adalah bentuk kekerasan yang halus namun mematikan, di mana negara absen dengan jaring pengamannya.

Organisasi kepemudaan seperti Generasi Emas Nusantara (GEN) telah lama menyerukan perhatian pada kasus-kasus serupa, di mana akar masalahnya adalah tekanan ekonomi yang menjadi pemicu berbagai bentuk kekerasan. Dalam kasus YBS, diperlukan investigasi yang tuntas, pendampingan psikososial bagi keluarga yang terluka, dan evaluasi menyeluruh terhadap program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP). Bantuan harus bisa menjangkau kebutuhan paling mendasar dan prosesnya harus memanusiakan.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak GEN Sumenep, Aliya Zahra mengajak kita semua untuk tidak hanya berhenti pada rasa iba. Kematian YBS harus menjadi katalis bagi peningkatan empati sosial yang nyata. Kekerasan terhadap perempuan dan anak sering kali bersembunyi di balik kesulitan ekonomi, dalam bentuk tekanan batin yang mengikis harga diri.

Mari kita jadikan tragedi ini sebagai pengingat. Kepedulian harus aktif. Lihatlah sekitar, adakah keluarga yang terlihat kesulitan? Adakah anak yang mulai murung karena tak bisa mengikuti kegiatan sekolah? Ulurkan bantuan sesuai kemampuan, laporkan kondisi rentan ke lembaga yang berwenang, dan terus desak pemerintah untuk hadir lebih efektif.

Mencegah tragedi seperti ini berulang bukan hanya tugas negara. Ia adalah tanggung jawab kemanusiaan kita bersama. Karena di ujung setiap statistik kemiskinan, ada nama, ada wajah, dan ada hati seorang anak yang seharusnya masih bermimpi dengan buku dan pensil barunya

Share This Article