Dinkes Sumenep Gebrak Door to Door, Pastikan Pasien TBC Minum Obat Teratur

fathorrosy
2 Min Read
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri

In – Tingginya beban kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sumenep memicu Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) untuk menggencarkan pemantauan langsung ke rumah-rumah pasien. Strategi door to door ini dijalankan agar pengobatan penderita TBC tidak terputus, mengingat penyakit ini masih menjadi ancaman serius.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, menegaskan langkah ini krusial untuk memastikan kepatuhan pengobatan. “Kami turun ke lapangan memastikan para penderita TBC mendapatkan pengobatan secara kontinyu,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).

Pemantauan ini tidak dilakukan sendirian. Dinkes menggandeng kader Puskesmas dan kader dari Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (YABHYSA) sebagai mitra dalam percepatan penanganan TBC. Setiap kunjungan lapangan dicatat dan dilaporkan melalui sistem informasi TBC yang terintegrasi secara nasional.

“Laporannya online langsung ke Kementerian Kesehatan. Dengan begitu, tidak ada satu pun penderita yang luput dari pantauan kami,” jelas Syamsuri.

Dalam kunjungan rutin tersebut, petugas sekaligus membagikan stok obat untuk dua minggu atau satu bulan ke depan, menyesuaikan dengan aksesibilitas lokasi. Skema ini menjangkau pasien hingga ke daerah terpencil.

“Prinsipnya, di mana pun mereka berada, selama masih terdata, kami akan upayakan agar pengobatan tetap berjalan. Kunci sembuh dari TBC adalah minum obat rutin tanpa putus selama setengah tahun,” tegas Syamsuri.

Di tengah upaya intensif tersebut, data terbaru menunjukkan hasil yang menggembirakan. Meski angka absolutnya masih tinggi, tren kasus TBC di Sumenep mulai menunjukkan penurunan.

Pada 2023, jumlah penderita tercatat 2.556 kasus, kemudian naik tipis menjadi 2.589 kasus pada 2024. Namun, hingga akhir Oktober 2025, angka ini turun signifikan menjadi 2.294 kasus.

Penurunan lebih drastis terlihat pada angka kematian. Setelah sempat meningkat dari 113 (2023) menjadi 130 (2024), kematian akibat TBC turun tajam menjadi 53 kasus sepanjang Januari-November 2025.

Syamsuri mengaitkan penurunan ini tidak hanya dengan kerja keras tenaga medis, tetapi juga peningkatan kesadaran masyarakat. “Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini ketika muncul gejala, seperti batuk berkepanjangan dan demam di malam hari, menjadi faktor penting di balik penurunan ini,” pungkasnya.

Share This Article